IJP (TRANSFER BELAJAR)

A. Pengertian Transfer belajar

Transfer belajar adalah sebuah frase yang terdiri dari kata, yaitu transfer dan belajar. Transfer adalah kata pungut dari bahasa inggris, yaitu pemindahan. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa-raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.[1]

Menurut L.D.Crow and A.Crow:

“The carry-over of thinking, feeling, or working, of knowledge of skills, from one learning area to another usually is referred to as the transfer of training.”

(Pemindahan-pemindahan kebiasaan berpikir, perasaan atau pekerjaan, ilmu pengetahuan atau keterampilan, dari suatu keadaan belajar yang lain biasanya disebut transfer latihan/ belajar).

Pemindahan hasil belajar itu sebenarnya bisa terjadi dari mata pelajaran satu ke mata pelajaran yang lain atau kehidupan nyata di luar sekolah.[2]

B. Beberapa Teori Transfer Belajar

1. Teori Disiplin Formal/ Ilmu Jiwa Daya

Bertitik tolak dari anggapan bahwa jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, daya mengingat, daya pikir dan lain-lain, maka mereka beranggapan bahwa transfer hanya bisa terjadi bila daya-daya tersebut dapat diperkuat dan “disiplinkan” dengan latihan-latihan yang keras dan terus-menurus. Setelah daya-daya itu terlatih maka akan mudah terjadi transfer secara otomatis ke bidang-bidang lain.

2. Teori Elemen Indektik/ Ilmu Jiwa Asosiasi

William James dan Edward Thorndike tidak sependapat dengan pandangan sekelompok ahli jiwa daya, kedua tokoh ini lalu mengkritik antara lain sebagai berikut:

a) Daya ingat tidak dapat diperkuat melalui latihan

b) Pelajaran bahasa latin misalnya tidak akan menaikkan IQ

c) Ilmu-ilmu dalam bidang tertentu (bila ditunjuk dengan istilah Ilmu Jiwa Daya mereka telah terlatih) ternyata lemah dan tidak mampu mengamati menganalisa dalam bidang-bidang lain, ini berarti transfer secara otomatis tidak terjadi.

Kemudian kelompok asosiasi ini berpendapat bahwa transfer hanya akan terjadi bila dalam situasi yang baru terdapat unsur-unsur yang sama (identical elements) dengan situasi terdahulu yang telah dipelajari. Maka bila sekolah menghendaki terjadinya transfer, bahan-bahan pelajaran harus dan mempunyai unsur-unsur kesamaan dengan kehidupan masyarakat.

3. Teori Generalisasi

Peletak pandangan ini adalah Charles Judd, ia beranggapan bahwa transfer bisa terjadi bila situasi baru dan situasi lama yang telah dipelajari mempunyai kesamaan prinsip, pola atau struktur, tidak kesamaan unsur-unsur. Seseorang memahami prinsip demokrasi akan mampu mengamalkan dalam situasi yang berbeda, demikian pula prinsip ekonomi, hukum, pendidikan dan lain-lain.[3]

Faktor yang berhubungan dengan kondisi dan cara yang digunakan untuk memperbesar transfer belajar:

a) Proses belajar: keterlibatan siswa dalam proses belajar, kecermatan dalam persepsi dan kedalaman dalam pengolahan materi yang dipelajari. Dan kesemuanya berkaitan dengan cara-cara belajar dan teknik-teknik studi secara efisien dan efektif

b) Hasil belajar: adanya bersifat terbatas untuk mentransfer seperti informasi verbal dan kemampuan gerak; adapula yang bersifat agak luas, sehingga kemungkinan untuk mentransfer juga demikian, bahkan menjadi bekal untuk dimanfaatkan dalam bidang kehidupan, seperti banyak konsep, kaidah, prinsip, strategi mengatur kognitif dan sikap

c) Bahan atau materi bidang studi, metode dan prosedur kerja yang diikuti dan sikap yang dibutuhkan dalam bidang studi yang bersangkutan

d) Faktor subjektif dari pihak siswa: fungsi kognitif, konitif, afektif, kesemuanya berperan dalam mengadakan transfer belajar dan proses belajar itu sendiri

e) Sikap dan usaha guru, termasuk penguasaan bahan, pemilihan bahan, penggunakan alat peraga, metode mengajar dan tanggung jawab dalam mengembangkan kepribadian para siswa.[4]

C. Struktur kognitif dan transfer belajar

Mengingat pengetahuan tentang sejumlah materi pelajaran cenderung diorganisasi (disusun) secara berurutan dan hierarki, dan apa yang telah diketahui anak didik dan sejauh mana anak didik dan sejauh mana anak didik mengetahuinya, jelas mempengaruhi kesiapan (readness) anak didik mempelajari hal-hal baru.

Dalam pengertian yang lebih umum dan jangka panjang, variabel “struktur kognitif” merupakan substansi serta sifat organisasi yang signifikan terhadap keseluruhan pengetahuan anak didik mengenai bidang studi tertentu, yang mempengaruhi prestasi akademis dalam bidang pengetahuan yang sama di masa mendatang.

Dalam pengertian yang lebih khusus dan jangka pendek, variabel “struktur kognitif” merupakan substansi serta sifat organisasi konsep-konsep dan hal-hal yang lebih relevan di dalam struktur kognitif, yang mempengaruhi belajar dan pengingatan unit-unit kecil materi pelajaran baru yang berhubungan. Karenanya, dalam penerimaan tugas-tugas belajar yang baru

Dalam proses belajar yang bermakna, untuk mencapai pengertian-pengertian baru dan penyimpanan (retensi) yang baik, materi-materi belajar selalu dan hanya dapat dipelajari bila dihubungkan dengan konsep-konsep, prinsip-prinsip serta informasi-informasi yang relevan yang telah dipelajari sebelumnya. Substansi dan sifat organisasi latar belakang pengetahuan ini mempengaruhi ketepatan dan kejelasan pengertian-pengertian baru yang ditimbulkan serta kemampuan memperoleh kembali pengertian-pengertian baru tersebut. Makin jelas, stabil, dan terorganisasinya struktur kognitif anak didik, maka proses belajar yang bermakna dan retensi makin mudah terjadi. Sebaliknya struktur kognitif yang tidak stabi, kabur, dan tidak terorganisir dengan tepat, cendrung merintangi proses belajar yang bermakna dan retensi. Bila permasalahan ini terjadi, maka transfer belajar sukar berlangsung. Karena kekaburan pengertian terhadap kaidah, dalil atau prinsip dalam kaidah mata pelajaran tertentu menyebabkan kerancuan struktur kognitif.[5]

D. Ragam transfer belajar

1) Transfer Positif

Dikatakan positif jika hasil belajar dalam satu mata pelajaran tertentu membantu terhadap mata pelajaran/ situasi yang lain.[6]

Transfer positif memungkinkan seseorang anak didik dalam menghadapi situasi yang baru memperoleh kebaikan-kebaikan, dan bahkan dapat lebih efektif dan efisien.

Contoh: seseorang anak yang telah dapat mengendarai “sepeda”, misalnya lebih efektif dan efesien jika ia belajar mengendarai kendaraan bermotor roda dua. Jadi keterampilan mengendarai sepeda mempunyai pengaruh yang signifikan untuk menguasai keterampilan mengendarai kendaraan bermotor roda dua dalam sutuasi yang lain.

2) Transfer Negatif

Transfer negatif yaitu transfer yang berakibat buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Transfer negatif dapat dialami anak didik bila ia belajar pada situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak terhadap ketrampilan/ pengetahuan yang dipelajari dalam situasi-situasi yang lain.

Contoh: seorang anak yang memulai mempelajari bahasa Inggris. Ia sudah mengetahui arti what, you, dan like. Apabila ketiga kata tersebut dengan pola what yo like? Disini anak hanya mentransfer arti kata, yag justru melakukan kesalahan, disebabkan kerancuan struktur kognitif dalam memahami prinsip tata bahasa Inggris. Karenanya transfer negatif tidak dihindari.

3) Transfer vertikal

Transfer yang berakibat baik dalam mempelajari pengetahuan/ keterampilan yang lebih tinggi dan rumit. Transfer vertikal dapat terjadi dalam diri seorang anak bila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu anak tersebut dalam menguasai pengetahuan/ keterampilan yang lebih tinggi atau rumit.

Contoh: anak didik sekolah dasar, yang telah mengetahui prinsip penjumlahan dan pengurangan pada waktu menduduki kelas II akan mudah mempelajari perkalian pada waktu dia menduduki kelas III.

4) Transfer lateral

Transfer yang berakibat baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/ keterampilan yang sederajat. Transfer lateral ini dapat terjadi dalam diri anak didik bila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajarinya untuk materi yang sama kerumitannya dalam situasi-situasi yang lain. Dalam hal ini, perubahan waktu dan tempat tidak mengurangi mutu hasil belajar anak tersebut.[7]

E. Nilai Transfer dalam Praktek Kependidikan dan Pengajaran

Apabila tidak adanya persamaan antara belajar di sekolah dengan pola kehidupan di luar sekolah, berarti tidak akan terjadi transfer. Karenanya sekolah hendaknya mengadakan sejumlah daftar mata pelajaran penting yang isinya senada dengan situasi kehidupan dalam masyarakat yang sifatnya selalu berubah-ubah. Isi kurikulum harus dihubungkan dengan pekerjaan yang dicita-citakan atau harus sejalan dengan kebutuhan kerja. Mata pelajaran yang harus dipelajari bukanlah masalah-masalah yang terpisah dan tidak bermanfaat.\, melainkan harus mengarah pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan sesuatu yang fundamental bagi anak untuk kemudian digunakan secara progresif dalam berbagai macam pengalaman kehidupan.

Oleh karena itu, perhatian guru harus ditujukan dengan sungguh-sungguh ke arah kesamaan-kesamaan yang ada antara pengalaman-pengalaman di dalam dan luar sekolah. Pengertian, pemahaman dan generalisasi yang berguna harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dai pekerjaan mengajar. Anak didik harus dibantu untuk mengembangkan titik pandang ke arah kehidupan di luar sekolah, baik untuk dimasa sekarang, maupun untuk masa yang akan datang, sehingga ia dapat menyesuaikan diri terhadap tuntutan hidup yang selalu berkembang.[8]

F. Peranan Guru dalam Meningkatkan Transfer

Kurikulum sekolah yang telah banyak meyajikan sejumlah mata pelajaran yang untuk dipelajari oleh anak didik, adalah menuntut sejumlah guru yang masing-masing memegang mata pelajaran, sesuai dengan keahliannya agar dengan mudah dan jelas menanamkan pengertian tentang kaidah, prinsip, dalil dalam mata pelajaran tersebut dalam struktur kognitif anak didik, sehingga hasil belajar dalam mata pelajaran itu dapat ditransfer untuk memperoleh pengetahuan/ keterampilan dalam mempelajari mata pelajaran yang lain.

Kesamaan unsur-unsur tententu dalam mata pelajaran tertentu dapat ditransfer secara timbal balik. Agar transfer dalam belajar terjadi, prinsip korelasi mutlak diperlukan jembatan penghubung antara materi pelajaran yang telah dikuasai sebelumnya dalam mata pelajaran yang berbeda.

Pemberian mata pelajaran dengan penjelasan yang lebih mendekati realitas kehidupan sehari-hari, membuat hasil belajar lebih bermakna. Mata pelajaran tidak lagi dianggap terpisah, tetapi merupakan bagian dari kehidupan. Anak didik tidak lagi menganggap mata pelajaran sebagai teori tanpa guna, tetapi dianggap sebagai mata pelajaran yang hasil dari mempelajarinya dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan di luar sekolah.

Guru harus menjelaskan bahwa mata pelajaran yang dipelajari di sekolah akan bernilai guna dalam kehidupan masyarakat. Penguasaan mata pelajaran agama dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dalam menjalani jembatan kehidupan yang fana. Penjelasan tentang nilai guna mata pelajaran akan meningkatkan transfer dalam belajar. Itulah hasil belajar yang produktif, tepat guna, dan berguna bagi masyarakat dan anak itu sendiri.[9]

G. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Transfer Belajar

a) Taraf intelegensi

Faktor ini berasal dari anak didik, dan berkisar pada masalah kapasitas dasar (kemampuan dasar) yang mebantu timbulnya transfer belajar.

Anak yang pandai cenderung memiliki transfer yang tinggi, dan sebaliknya anak yang kurang pandai cenderung memiliki transfer rendah (minim). Oleh karena, tidak dapat mempertahankan sesuatu informasi yang didapat dalam jumlah yang cukup banyak.

b) Sikap

Timbulnya transfer tidak secara otomatis, melainkan timbul dengan sengaja. Oleh karena itu, sikap serta usaha yang disengaja kearah ini akan membantu timbulnya transfer. Ini berarti bahwa apa yang dipelajari oleh anak didik, dapat dimanfaatkan dan dipraktekkan sesuai dengan situasi dan kondisi, dimana dia berada. Demikian juga sikap guru dan usaha anak didik untuk melakukan perbuatan belajar, tanpa mempengaruhi jumlah transfer.

c) Metode Guru dalam Mengajar

Faktor ini berasal dari guru dan berkisar antara lain pada penguasaan persiapan, alat peraga, pemilihan bahan, dan sebagainya. Dengan bahan yang sama akan menghasilkan hasil yang berbeda, disebabkan perbedaan dalam pemakaian metode mengajar. Hasil belajar yang dihasilkan dengan penggunaan metode diskusi akan berlainan hasilnya bila guru menggunakan metode ceramah. Pemakaian metode tanya jawab atau brain stroming (metode sumbang saran) diakui keampuhannya dapat meningkatkan kreativitas anak didik. Inisiatif anak didik dapat dipicu dengan metode ini.

Kesalahan pengertian dihindari sehingga tidak terjadi kerancuan dalam struktur kognitif. Kerapian pengorganisasian informasi dalam struktur kognitif dapat melicinkan jalan kearah timbulnya transfer belajar.

d) Isi Mata Pelajaran

Hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain menjadi penengah yang dapat menimbulkan transfer dalam belajar. Suatu mata pelajaran dapat dikuasai bisa dijadikan landasan untuk menguasai mata pelajaran lain yang relevan, baik kaidah maupun prinsip-prinsipnya.

Contoh: Penguasaan kaidah mata pelajaran bahasa Indonesia, dapat digunakan untuk mempelajari pelajaran bahasa Inggris, begitu pula sebaliknya.[10]

Kesimpulan

A. Pengertian Transfer belajar

Menurut L.D.Crow and A.Crow:

Pemindahan-pemindahan kebiasaan berpikir, perasaan atau pekerjaan, ilmu pengetahuan atau keterampilan, dari suatu keadaan belajar yang lain biasanya disebut transfer latihan/ belajar.

B. Beberapa Teori Transfer Belajar

  1. Teori Disiplin Formal/ Ilmu Jiwa Daya
  2. Teori Elemen Indektik/ Ilmu Jiwa Asosiasi
  3. Teori Generalisasi

C. Struktur kognitif dan transfer belajar

Dalam proses belajar yang bermakna, untuk mencapai pengertian-pengertian baru dan penyimpanan (retensi) yang baik, materi-materi belajar selalu dan hanya dapat dipelajari bila dihubungkan dengan konsep-konsep, prinsip-prinsip serta informasi-informasi yang relevan yang telah dipelajari sebelumnya. Substansi dan sifat organisasi latar belakang pengetahuan ini mempengaruhi ketepatan dan kejelasan pengertian-pengertian baru yang ditimbulkan serta kemampuan memperoleh kembali pengertian-pengertian baru tersebut.

D. Ragam transfer belajar

1) Transfer Positif 3) Transfer Vertikal

2) Transfer Negatif 4) Transfer Lateral

E. Nilai Transfer dalam Praktek Kependidikan dan Pengajaran

Perhatian seorang guru harus ditujukan dengan sungguh-sungguh ke arah kesamaan-kesamaan yang ada antara pengalaman-pengalaman di dalam dan luar sekolah. Pengertian, pemahaman dan generalisasi yang berguna harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dai pekerjaan mengajar.

F. Peranan Guru dalam Meningkatkan Transfer

Guru harus menjelaskan bahwa mata pelajaran yang dipelajari di sekolah akan bernilai guna dalam kehidupan masyarakat. Penjelasan tentang nilai guna mata pelajaran akan meningkatkan transfer dalam belajar. Itulah hasil belajar yang produktif, tepat guna, dan berguna bagi masyarakat dan anak itu sendiri

G. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Transfer Belajar

a) Taraf intelegensi c) Metode Guru dalam Mengajar

b) Sikap d) Isi Mata Pelajaran

Daftar pustaka

Abror, Abd. Rahman abror. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Bahri, Drs. Syaiful djamarah.2002. Psikologi belajar. Jakarta: rineka cipta.

Drs. H. Mustaqim. 2001. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.



[1] Drs. Syaiful bahri djamarah, Psikologi belajar,(Jakarta: rineka cipta, 2002), h.188.

[2] Drs. H. Mustaqim, Psikologi Pendidikan,(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2001), h.64.

[3] Drs. H. Mustaqim, Psikologi Pendidikan,(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2001), h.65-67.

[4] Abd. Rahman abror, Psikologi Pendidikan,(yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1993), h. 97

[5] Drs. Syaiful bahri djamarah, Psikologi belajar,(Jakarta: rineka cipta, 2002), h.191-192.

[6] Drs. H. Mustaqim, Psikologi Pendidikan,(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2001), h.65.

[7] Drs. Syaiful bahri djamarah, Psikologi belajar,(Jakarta: rineka cipta, 2002), h.192-194.

[8] Drs. Syaiful bahri djamarah, Psikologi belajar,(Jakarta: rineka cipta, 2002), h.194-195.

[9] Drs. Syaiful bahri djamarah, Psikologi belajar,(Jakarta: rineka cipta, 2002), h.195-196.

[10] Drs. Syaiful bahri djamarah, Psikologi belajar,(Jakarta: rineka cipta, 2002), h.196-198.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar